Kaspersky: Uang adalah Motivasi Pembuat Virus

03/11/2009 22:42

Kaspersky: Uang adalah Motivasi Pembuat Virus

TEMPO Interaktif, Jakarta - Menghela napas yang agak panjang. Itulah yang pertama kali dilakukan lelaki tinggi dengan rambut sedikit pirang itu. Tubuh Eugene Kaspersky, nama lelaki itu, tampak mulai berkeringat, merembes di kemejanya yang putih.

 
"Akhirnya saya tiba di sini," kata Kaspersky sambil mengembangkan senyum ke arah beberapa wartawan yang berkesempatan menikmati santap siang dengannya di Jakarta pada pekan lalu, termasuk Tempo. 
 
Itulah hari kedua Kaspersky di Jakarta. Sosok pendiri Kaspersky Lab, perusahan antivirus yang mulai kondang di sini, itu menikmati hawa Indonesia mulai 7 sampai 11 Oktober. Selain Jakarta, ia menyambangi Yogyakarta.
 
Di hadapan wartawan, Kaspersky berbagi visi tentang dunia keamanan komputer di masa depan. Menurut dia, di masa depan, semakin banyak perangkat yang berkomputer dan terhubung ke Internet. Kondisi inilah yang akan membuat spektrum ancaman dari para pembuat program jahat atau perusak komputer semakin meluas. 
 
Kaspersky menyebutkan satu contoh pada berita kebocoran sistem komputer di pesawat superbesar Boeing 787. Kebocoran ini, menurut badan pengawas penerbangan Amerika Serikat, membuka peluang pembajak komputer beraksi. Sistem pesawat dan navigasinya bisa dikendalikan dari jarak jauh. 
 
Di sisi lain, semakin banyak saja perangkat yang memiliki fungsi komputer, dari ponsel, mobil, sampai lemari es dan mesin pembuat kopi. "Pada saat ini semua sudah serba komputer," ujar Kaspersky, yang lahir di Novorossiysk, Rusia, 4 Oktober 1965. 
 
Karena itu, menurut Kaspersky, ruang kerja para pembuat virus atau program jahat akan bergeser ke ranah yang mungkin tak terbayangkan saat ini. Ia yakin, selain kemungkinan pembajakan pesawat, bukan tak mungkin kisah pada film Die Hard yang dibintangi Bruce Wilis dapat menjadi kenyataan. 
 
Hal ini pun sebetulnya sudah dimulai. Pada Januari 2008, misalnya, badan intelijen telah memburu peretas komputer yang mengancam mensabotase aliran listrik. "Bahkan peretas komputer di Ukraina mampu mematikan jaringan Internet," katanya. 
 
Motivasi utamanya, kata sosok bernama asli Evgeniy Valentinovich Kaspersky itu, bukan lagi untuk merusak sistem, melainkan duit dan duit. Ini telah melahirkan bisnis gelap bawah tanah dengan nilai sampai miliaran dolar Amerika. Dari menjual password perbankan, botnet, sampai menjual kartu kredit. 
 
Ada banyak faktor yang membuat hal itu merajalela. Selain meluasnya pemakaian komputer pada perangkat sehari-hari, sistem komputer semakin terbuka. Termasuk pula perkembangan interaksi antar pengguna di Internet melalui Web 2.0. 
 
Selain itu, perilaku pengguna komputer saat ini ikut memberi sumbangsih. Salah satu yang fatal adalah berkompromi dengan sistem keamanan komputernya. Atas nama kemudahan, tak jarang pengguna mengabaikan peringatan dari sistem maupun peranti lunak antivirus. 
 
Karena itu, lulusan Institute of Cryptography Telecommunications and Computer Science ini menyarankan pengguna komputer agar lebih berhati-hati, terutama saat mengakses Internet dan memakai penyimpan data bergerak seperti flashdisk. "Lebih aman lagi jangan gunakan komputer dan tidur saja," ujar Kaspersky bercanda. 
 
Ditanya soal antisipasi terhadap para pelaku kejahatan dunia maya itu, Kaspersky menggeleng. Menurut dia, itu bukan wilayah tanggung jawab pembuat antivirus. "Itu tanggung jawab polisi," kata dia. "Tapi kami bersedia kok membantu polisi bila diminta."
 
Kaspersky mengatakan kerja sama seperti itu sudah dikerjakan di Brasil, Rusia, Eropa, Cina, dan Amerika Serikat. "Kami telah berhasil membantu menghukum beberapa penjahat cyber," katanya. 
 
Sebuah kisah menggelikan pernah terjadi saat seorang penjahat cyber ditangkap di Vladivostok, Rusia. Ini adalah kawasan di belahan timur Rusia yang perbedaan waktunya sampai delapan jam dengan Moskow di barat.
 
Komputer si pelaku rupanya dikunci dengan password. Untuk membuka kunci inilah polisi sampai memboyong komputer itu ke kantor Kaspersky dengan menempuh perjalanan delapan jam dengan pesawat.