Internet broadband akan pacu cybercrime

03/11/2009 22:34

Aktivitas kejahatan dunia maya (cybercrime) di Indonesia ke depan berpotensi naik dan meluas, terlebih penetrasi Internet broadband (kecepatan tinggi)-baik berbasis jaringan tetap maupun mobile-terus meningkat.

Budi Rahardjo, ahli keamanan jaringan komputer dari Institut Teknologi Bandung (ITB), mengungkapkan demam berselancar dunia maya saat ini berbeda dengan periode 2000-an, sebab perluasan terjadi merata di wilayah urban ataupun perdesaan.

Dengan grafik eksponensial, terutama didorong oleh akses di ponsel, Budi melihat penetrasi Internet sepanjang 2009 ini sebagai salah satu tahun dengan perkembangan tertinggi sepanjang gelaran di Indonesia.

"Dengan situasi tersebut, kami lihat potensi cybercrime otomatis naik pula. Jika tahun ini masih didominasi serangan ke komputer, ke depan akan banyak serangan ke ponsel pengguna," katanya kepada Bisnis kemarin.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kenaikan sekitar dua digit dari pelanggan broadband tahun ini diperoleh operator telekomunikasi seperti PT Telkom yang hingga Agustus lalu memiliki 800.000 pengguna Speedy.

Jumlah pelanggan terbesar segmen telepon tetap ini diikuti pertumbuhan pelanggan nirkabel lini USB modem, seperti IM2 dengan 340.000 nomor, Telkomsel Flash 1,2 juta, Mobi 20.000 nomor.

Budi melanjutkan serangan ke komputer merupakan keniscayaan seiring dengan pertumbuhan pelanggannya. Cracker, sebutan kriminal dunia maya, pasti akan memburu layanan dengan jumlah akses terbanyak.

"Apalagi, jika perilaku masyarakat Indonesia mulai berubah yakni senang melakukan transaksi elektronik di ponselnya. Sekarang ini belum banyak [cracker] yang memburu, karena transaksi m-banking di Indonesia, misalnya, masih rendah."

Dia memberi contoh kejahatan situs Internet banking atau e-commerce semacam E-Bay atau PayPal yang tak pernah menurun karena selain relatif mudah ditembus, nilai transaksi di dalamnya juga tergolong besar.

Doktor elektronika lulusan Universitas Manitoba, Kanada ini memperkirakan modus yang paling banyak dilakukan pada ponsel nantinya masih teknik phising, sebuah teknik menjebak identitas pengguna melalui situs palsu.

Symantec, perusahaan solusi keamanan Internet, mencatat bahwa pasar gelap online di luar negeri menjual identitas pribadi kartu kredit dengan limit transaksi Rp40 juta per hari di kisaran Rp250.000 per kartu.

Berdasarkan penelusuran Budi, pelaku kejahatan nanti besar kemungkinan asal Indonesia juga.

Meskipun demikian, dia melihat komunitas pelaku kriminal dunia maya di dalam negeri relatif masih kelompok yang sama.